Home Article Features Masjid Tiban Dibangun oleh Jin?

Dalam beberapa cerita mitos dan legenda yang terjadi di Nusantara, ada beberapa tempat yang dipercaya masyarakat dibuat oleh bantuan jin, mahluk halus, dan sejenisnya. Tak heran, seiring berjalannya waktu tempat tersebut begitu diagungkan dan tak jarang dijadikan tempat keramat oleh masyarakat setempat.

Salah satu contoh adalah Masjid Tiban yang terletak di Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Konon masjid ini dibangun oleh jin hanya dalam satu malam saja. Masyarakat setempat pun tak sedikit yang meyakini seperti itu. Lalu, bagaimana kebenarannya?

Saat pertama kali menyaksikan Masjid Tiban, orang pasti akan dibuat tercengang dengan kemegahan dan keindahan artsitekturnya. Apalagi saat mendengar desas-desus yang mengatakan bahwa masjid tersebut dibuat oleh jin dalam waktu satu malam. Itulah mengapa Tiban dijadikan nama masjid. Karena warga sekitar masjid itu sama sekali tidak mengetahui bagaimana proses pembuatannya. Masjid itu ada seara tiba-tiba.

Namun, desas-desas itu mulai runtuh saat semuanya dikonfirmasi langsung kepada pihak pengurus masjid yang bersangkutan. Menurutnya, masjid Tiban dibangun secara transparan sebagaimana masjid-masjid lain dibangun dengan menggunakan tenaga manusia. Dalam hal ini adalah melibatkan para santri dan jama’ah.

Untuk menghilangkan mitos masjid Tiban dibangun oleh jin, para pengurus sengaja membuat tulisan yang terpampang jelas di depan meja penerima tamu yang bertuliskan, “Apabila ada orang yang mengatakan bahwa ini adalah pondok tiban (pondok muncul dengan sendirinya), dibangun oleh jin dsb., itu tidak benar. Karena bangunan ini adalah Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah yang murni dibangun oleh para santri dan jamaah.”

Perlu diketahui juga Masjid Tiban adalah sebenarnya Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah. Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah (Bi Ba’a Fadlrah). Nama yang cukup panjang yang mempunyai makna Laut Madu atau, “Fadilah Rohmat” (Segarane, Segara, Madune, Fadhole Rohmat-terjemahan Bahasa Jawa).

Secara historis, pondok ini mulai dibangun pada tahun 1978 oleh Romo Kiai Haji Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam, atau yang akrab disapa Romo Kiai Ahmad. Di atas lahan seluas 4 hektare (saat ini kira-kira baru 1,5 hektare saja yang baru digunakan) Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah berdiri.

Bangunan utama pondok dan masjid tersebut sudah mencapai 10 lantai, tingkat 1 sampai dengan 4 digunakan sebagai tempat kegiatan para santri, lantai 6 seperti ruang keluarga, sedangkan lantai 5, 7, 8 terdapat toko-toko kecil yang di kelola oleh para santriwati (Santri Wanita), berbagai macam makanan ringan dijual dengan harga murah, selain itu ada juga barang-barang yang dijual berupa pakaian sarung, sajadah, jilbab, tasbih sebagainya.

Tak hanya unik, di dalam ponpes tersebut juga tersedia kolam renang, dilengkapi perahu yang hanya khusus untuk dinaiki wisatawan anak-anak. Di dalam komplek ponpes itu juga terdapat berbagai jenis binatang seperti kijang, monyet, kelinci, aneka jenis ayam dan burung.

Arsitektur bangunannya sangat menawan. Sangat serius. Ini terlihat di setiap detail ornamennya. Benar-benar tak disangka, jika di sebuah desa kecil Sananrejo,Turen, Kabupaten Malang berdiri sebuah bangunan yang arsitekturnya yang bisa membuat hati berdecak kagum. Begitu datang ke sini, pengunjung akan disambut oleh sebuah wahana demi wahana, dari melangkahkan kaki untuk pertama kalinya di dalam bangunan pondok pesantren ini, sampai keluar. Dari tingkat pertama sampai dengan tingkatnya yang ke sepuluh.

Memasuki bangunan pertama kali akan dihadapkan dengan semacam ruang yang kalau boleh dikatakan sebagai serambi. Yang salah satu bagian temboknya didesain mirip desain dinding gua yang ada beberapa ruang lagi di balik dinding tersebut. Jadi, mirip seperti bangunan ber-ruang. Dimana di salah satu ruang tersebut ada sebuah ruangan yang penuh dengan akuarium yang ditata sedimikian rupa. Diisi dengan ikan berbagai macam dan jenis.

Selain itu, meja kursi yang terdapat di sana terbuat dari bahan kayu yang bentuknya sangat artistik. Kemudian jika kita memasuki salah satu ruangan, di ruang tersebut akan terhubung oleh suatu pintu. Sehingga kita akan bisa memasuki ruangan yang lain. Di mana tiap ruang mempunyai desain ruangan yang berbeda-beda. Jadi, kita tidak akan bosan memasuki ruang demi ruang.

Kemegahan dan keunikan masjid Tiban dan pesantren ini sempat diliput di salah satu tayangan televisi swasta terkait khazanah Islam yang pantas dipelihara. Dari keterangan pengurus, arsitektur yang dipakai membangun ponpes bukan hasil ilmu dan imajinasi seorang arsitek yang handal. Tapi dari hasil istikharah si pemilik pondok, KH Ahmad Bahru Mafdlaludin Soleh.
Bentuknya sangat unik, seperti perpaduan timur tengah, china dan modern. Untuk pembangunannya tidak menggunakan alat-alat berat dan modern seperti halnya untuk membangun gedung bertingkat. Semuanya dikerjakan oleh para santri yang berjumlah 250 orang dan beberapa penduduk di sekitar pondok. (berbagai sumber/as)

Similar articles